Bromo termasuk salah satu tujuan
wisata terindah di Indonesia. Pengalaman jalan-jalan kesana memberi kesan
tersendiri, apalagi membawa Aisha yang masih berusia 9 bulan. Tujuan kota yang
akan disinggahi yaitu Malang, berhubung cari tiket pesawat langsung ke Malang
tidak dapat, beralih ke tiket pesawat tujuan Surabaya, dengan konsekuensi
berlanjut dengan menggunakan travel ke kota Malang. Selama perjalanan
Alhamdulillah Aisha anteng dan kedua kakak-kakaknya pun bisa diajak kerjasama,
Syabil yang kondisinya sedikit mengkhawatirkan, alergi di kulit bercak-bercak,
tapi kondisi tubuhnya fit.
Sesampainya
di bandara Juanda Surabaya, saya dan suami yang sudah googling sana sini,
telpon sana sini untuk meyakinkan akan naik apa untuk lanjut ke kota Malang,
kami memilih menggunakan jasa nahwa travelindo. Selain harganya yang lebih
murah dari travel lain, baca-baca yang menggunakan jasa travel ini juga
rata-rata puas dengan pelayanan dan sopirnya. Bila diitung perorang, biaya
travel Surabaya-malang sebesar 90 ribu rupiah dengan konsekuensi kita semobil
dengan banyak orang dengan tujuan yang sama-sama ke Malang. Tapi bila kita
carter permobil biayanya sekitar 400 ribu rupiah. Berhubung kami membawa dua
anak-anak dan satu bayi serta bawaan beberapa koper besar, maka diputuskanlah
mencarter satu mobil. menunggu mobil travel dan disambut udara panas Surabaya,
tak lama pun mobil travel datang menjemput. Perjalanan Surabaya-Malang ditempuh
sekitar dua jam bila lancar dan tidak macet, macet-macet juga tak seperti macet
di Jakarta. Jalanan Surabaya-Malang ini hanya lurus saja, belok cuma satu kali,
tergolong lancar jaya, dua jam sampai di hotel.
Hari pertama di
Malang, kami gunakan untuk istirahat terlebih dahulu, sambil mempersiapkan
tujuan kami ke Bromo malam selanjutnya. Memastikan, kembali cari-cari
informasi. Banyak paketan-paketan wisata ke Bromo, dan karena kami kesana pas
liburan sekolah dan liburan natal maka rata-rata semua paketan-paketan ini
sudah penuh. Maka diputuskanlah lagi kami menggunakan nahwa travelindo, itu pun
hanya mobil beserta supir yang ahli menuju kaki gunung. Biayanya sekitar
950ribu, biaya ini meliputi sewa mobil, supir, bensin dan menunggu sampe kita
turun lagi keesokan harinya, dan diantar kembali hotel tempat kita menginap.
Jam 10 malam, persiapan
dimulai, memakaikan baju zharfan dan syabil, jaket lapis dua, kaos kaki dan
sepatu. Lanjut aisha, kaos kaki panjang sekaligus celana, baju, jaket lapis
dua, ditambah ciput bayi penutup kepala. Tak lupa, bawa persiapan roti, makanan
kecil dan termos kecil berisi teh panas. Dan satu ransel berisi baju ganti
zharfan, Syabil dan Aisha, diapers serta tisu basah. Jam 11 malam turun ke lobi
dan nunggu travel jemputan. Mobil avanza warna putih yang akan membawa kita ke
kaki gunung bromo. Bismillah.

Perjalanan pun
dimulai, perkiraan saya perjalanan kami tak menempuh waktu lama, karena Bromo
identik dengan Malang, bayangan saya hanya akan menempuh waktu sejam saja.
Ternyata saya salah. Bromo terletak di Pasuruan dan ditempuh dalam waktu
sekitar 3 jam dengan kondisi kecepatan mobil yang tinggi dan medan yang berat.
Tengah malam buta tanpa penerangan lampu jalan, hanya dari lampu mobil,
menanjak 45 derajat, belokan tajam ke kiri, belokan tajam ke kanan. Saya
perkirakan jalanannya hanya cukup dilalui satu mobil ditambah sebelah kiri
jalan langsung jurang tanpa pengamanan pembatas jalan. Kondisi ini makin
membuat saya ciut nyalinya, mencekam, dan cukup dibuat terkocok-kocok perut
saya. Dan saya ga kuatttt….hoekkk…hoekkk…
Tiba di kaki
gunung, turun dari mobil desiran angin terasa dingin. Pertama yang saya cari
adalah toilet. Dan ternyata amat mudah menemukan toilet disini. Ditambah lagi
banyaknya warung-warung kecil sampai tengah malam. Pokoknya jangan takut tidak
bisa pipis, BAB atau minum kopi, teh manis, indom*e rebus dan harganya sesuai
kantong, tidak mahal dan tidak dijebak. Malam-malam di tempat antah berantah
awalnya membuat ketar ketir, tapi ternyata penduduk suku tengger amat ramah-ramah
dan baik-baik. Mereka sangat kuat memegang adat istiadat, termasuk kebiasaan
leluhur untuk berlaku jujur dan tidak berlaku jahat. Denger punya denger dari
supir yang sering antar wisatawan ke daerah sini, mobil dibiarkan tak terkunci
pun mereka tak khawatir akan hilang dan barang-barang dalam mobil pun aman.
Tiba di kaki
gunung sekitar pukul 2 malam, disini kita tidak bisa melanjutkan dengan mobil
biasa, harus berganti dengan mobil jeep, dikarenakan medan yang semakin berat
dan ketinggian yang hanya bisa dilalui dengan jeep dan supir-supir
professional. Karena dari awal saya tidak ikut ambil paketan mobil travel dan
jeep. Saya pun mencari jeep-jeep yang disewakan, tentunya dibantu oleh supir
yang pertama kali antar kita ke kaki gunung. Bertemulah saya dengan pak
adinata. Pak adinata menawarkan
biaya jeep dan dijelaskan berapa spot yang akan dikunjungi, dan menjelaskan
biaya sewa jeep bila musim liburan ini mencapai 750 ribu rupiah. Harga normal
berkisar 600 ribu rupiah.
Pukul setengah
tiga malam, perjalanan menuju puncak dimulai, melihat saya membawa bayi, sang
supir menyarankan kami untuk berangkat cepat, agar dapat parkiran di atas, ini
akan memudahkan kami agar tidak terlalu jauh jalan menanjak yang akan dilalui
dengan berjalan kaki. Sang supir menyarankan saya dan Aisha untuk duduk di
depan, biar tidak pusing melalui jalanan yang curam sekali. Pertama kali naik
jeep dengan roda yang besar membuat sensasi tersendiri. Saya hitung melihat ke
belakang muat untuk 6 orang dewasa, dan depan disamping supir bisa dua orang.
Jadi bila ke bromo 8 orang cukup menyewa satu jeep. Perjalanan menuju atas ini
lebih curam daripada ketika naik mobil pertama tadi. Lebih berat medannya, dan
tentunya tak ada penerangan sedikitpun kecuali dari lampu jeep. Sang supir yang
merupakan suku asli tengger sangat fasih berbahasa Indonesia, sopan dan
penampilannya seperti penampilan penduduk suku tengger lainnya, celana panjang,
kaos dan sarungan yang di slempangin di leher. Tak seperti perjalanan pertama
yang seperti dikocok-kocok perutnya, perjalanan ke dua ini lebih santai dan
mengasikkan walaupun suasana gelap dan dinginnya hutan pinus menyelimuti
perjalanan.
Sesampainya di
atas, kami dapat parkiran di atas, tak terlalu atas sih, tapi tidak di bawah
juga, lumayan dilanjut dengan berjalan kaki. Ditambah anak-anak tangga yang
harus dilalui, dalam gelap, dingin dan menggendong Aisha. Zharfan dan Syabil
dalam gandengan abinya. Ketika Desember saya kesana sedang musim hujan,
perjalananpun diiringi gerimis-gerimis kecil, tapi ternyata musim hujan malah
dinginnya tidak seberapa dibandingkan musim kemarau. Pada musim kemarau, dingin
bisa dua kali lipat dibandingkan musim hujan. Duh ga kebayang dinginnya, segini
saja sudah sangat dingin. Selangkah demi selangkah, dingiiin dan lapisan
oksigen terasa tipis, syabil sudah mau nangis ga kuat. “Ayo de, ade bisa, tuh
dikit lagi kita mau sampe di puncak”. Sambil ngos-ngosan dan nyemangati ade,
aisha pun terlihat kedinginan, saya betulkan jaket saya menyelimuti aisha
sambil memeluknya erat. Melihat jam dalam gelap sangat sulit, saya memperkirakan
saat itu jam 4 subuh. Terlihat beberapa pengunjung yang lain menunaikan ibadah
sholat subuh di pendopo, kami pun bergegas sholat subuh. Awalnya pertanyaan
dalam hati saya, dimana nanti kita sholat subuh, dan akhirnya terjawab. Disini
di puncaknya terdapat sebuah pendopo dan tempat berwudhu yang memang
dipersiapkan untuk sholat subuh.
Selesai sholat,
kita mencari posisi yang enak untuk melihat kemunculan sang surya. Dan sesekali
melihat ke atas langit, pada saat itu bintang terasa dekat sekali dengan
kepala, indah, indah sekali bintang-bintang bertebaran di atas langit. Jaket
saya ditarik-tarik Syabil, sambil melontarkan pertanyaan polos. “ummi, kita mau
ngapain disini?”. “Kita mau liat matahari terbit de, itu dari sana, bentar
lagi”. Dan dari timur terlihat sedikit demi sedikit lapisan langit berwarna
kejinggaan, tanda sang mentari mau muncul. Saya lihat sekeliling kami pada
menggunakan kamera canggih untuk mengabadikan momen indah ini, hanya kami yang
cekrek cekrek menggunakan kamera hape dan tablet. :p. saya bersyukur subuh ini
cuaca cerah, tidak mendung, kemunculan matahari dapat kita lihat langsung.
Ditambah pemandangan gunung-gunung dan lapisan kabut yang menyelimuti, seperti
berada di negeri atas awan. Masha Allah. Indaaahh sekali.

Detik demi detik
langit semakin terang, pagi telah datang, udara masih sangat dingin. Tapi
keindahannya belum mau kami tinggalkan. Tapi masih banyak spot yang akan kita
kunjungi. Turunlah kami menyusuri anak tangga. Sesampainya di jeep, terlihat
dipinggir-pinggir jalan warung-warung telah buka, ada yang jual baju, kupluk,
teh hangat, kopi dan indom*e. Kalau saya tentunya mencari toilet. Abinya beli
kaos hitam semeru dan kupluk pink untuk aisha. Zharfan dan Syabil sarapan
popm*e dan teh hangat. Makanan yang terasa spesial bagi mereka, karena
jarang-jarang ummi mengijinkan makan popm*e bila di rumah. Untuk urusan satu
ini ummi ketat nak.


Perjalanan
berlanjut, sekarang kita turun gunung, menuju spot-spot yang tadi kita lihat
dari atas. Perjalanan pertama ke padang savana. Ini adalah padang pasir yang
ditumbuhi semak-semak berbunga dan rumput-rumput indah. Hal pertama yang
dilakukan Syabil adalah bermain pasir. Serius sekali dia bila sudah bertemu
pasir. Tak bisa diganggu, seperti menemukan mainannya. Zharfan ikut-ikutan
adenya main pasir, sesekali dia ngerecoki adenya. Kabut masih menutupi
pandangan, jarak pandang sangat terbatas, tapi udara sudah tak terlalu dingin
seperti pada malam hari.


Spot kedua
adalah pasir berbisik atau sebagian orang menyebutnya bukit teletubis.
Bukit-bukit pasir menyerupai di film anak-anak teletubis, hanya ini adalah
bukit pasir. Sampainya kita disini kabut masih rendah. Anak-anak kembali main
pasir sambil sesekali berlari-lari dan mendaki bukit pasir ini hingga tinggi.
Ini adalah spot yang digunakan di film pasir berbisik. Karena saya kesana musim
penghujan, maka pasir-pasirnya pun memadat, sehingga tak membentuk
gelombang-gelombang seperti yang sering kita lihat di foto-foto.

Spot yang
terakhir adalah kawah bromo dan gunung batok. Legendanya pada jaman dahulu kala
gunung batok merupakan tutup dari kawah disebelahnya. Disini jeep-jeep
berkumpul dan para pengunjung berjalan ke atas kawah. Berhubung saya membawa
bayi, saya tidak sampai ke kawahnya, sang supir memberitahu bahwa bau belerangnya
sangat menyengat jadi kita cukup dibawah saja, sambil menikmati bakso malang.
Si pedangang bakso malang menggunakan motor menjajakan bakso malangnya. Tidak
mahal untuk ukuran tempat wisata. Cuma 10 ribu rupiah permangkok. Pertanyaannya
adalah ini abang bakso bawa motornya jago banget ya, bisa jualan sampe sini
dengan bawaan berat di belakang. Disini juga terdapat kuda-kuda yang disewakan
ke para pengunjung. Sewa kuda sebesar 100 ribu rupiah.
Selesai
menikmati tempat-tempat ini, kami pun kembali ke kaki gunung. Saat itu
kira-kira pukul 9 pagi. Anak-anak sudah terlihat lelah dan mengantuk. Tiba di
kaki gunung, kami berganti mobil, dan sambung dengan mobil yang tadi malam
menunggu disini. Perjalanan pulang sambil membawa kenangan indah tentang bromo.
Keindahan negeri di atas awan.