Jumat, 27 Februari 2015

Perjalanan Menuju Negeri Di Atas Awan Bromo


Bromo termasuk salah satu tujuan wisata terindah di Indonesia. Pengalaman jalan-jalan kesana memberi kesan tersendiri, apalagi membawa Aisha yang masih berusia 9 bulan. Tujuan kota yang akan disinggahi yaitu Malang, berhubung cari tiket pesawat langsung ke Malang tidak dapat, beralih ke tiket pesawat tujuan Surabaya, dengan konsekuensi berlanjut dengan menggunakan travel ke kota Malang. Selama perjalanan Alhamdulillah Aisha anteng dan kedua kakak-kakaknya pun bisa diajak kerjasama, Syabil yang kondisinya sedikit mengkhawatirkan, alergi di kulit bercak-bercak, tapi kondisi tubuhnya fit.
                Sesampainya di bandara Juanda Surabaya, saya dan suami yang sudah googling sana sini, telpon sana sini untuk meyakinkan akan naik apa untuk lanjut ke kota Malang, kami memilih menggunakan jasa nahwa travelindo. Selain harganya yang lebih murah dari travel lain, baca-baca yang menggunakan jasa travel ini juga rata-rata puas dengan pelayanan dan sopirnya. Bila diitung perorang, biaya travel Surabaya-malang sebesar 90 ribu rupiah dengan konsekuensi kita semobil dengan banyak orang dengan tujuan yang sama-sama ke Malang. Tapi bila kita carter permobil biayanya sekitar 400 ribu rupiah. Berhubung kami membawa dua anak-anak dan satu bayi serta bawaan beberapa koper besar, maka diputuskanlah mencarter satu mobil. menunggu mobil travel dan disambut udara panas Surabaya, tak lama pun mobil travel datang menjemput. Perjalanan Surabaya-Malang ditempuh sekitar dua jam bila lancar dan tidak macet, macet-macet juga tak seperti macet di Jakarta. Jalanan Surabaya-Malang ini hanya lurus saja, belok cuma satu kali, tergolong lancar jaya, dua jam sampai di hotel.
Hari pertama di Malang, kami gunakan untuk istirahat terlebih dahulu, sambil mempersiapkan tujuan kami ke Bromo malam selanjutnya. Memastikan, kembali cari-cari informasi. Banyak paketan-paketan wisata ke Bromo, dan karena kami kesana pas liburan sekolah dan liburan natal maka rata-rata semua paketan-paketan ini sudah penuh. Maka diputuskanlah lagi kami menggunakan nahwa travelindo, itu pun hanya mobil beserta supir yang ahli menuju kaki gunung. Biayanya sekitar 950ribu, biaya ini meliputi sewa mobil, supir, bensin dan menunggu sampe kita turun lagi keesokan harinya, dan diantar kembali hotel tempat kita menginap.
Jam 10 malam, persiapan dimulai, memakaikan baju zharfan dan syabil, jaket lapis dua, kaos kaki dan sepatu. Lanjut aisha, kaos kaki panjang sekaligus celana, baju, jaket lapis dua, ditambah ciput bayi penutup kepala. Tak lupa, bawa persiapan roti, makanan kecil dan termos kecil berisi teh panas. Dan satu ransel berisi baju ganti zharfan, Syabil dan Aisha, diapers serta tisu basah. Jam 11 malam turun ke lobi dan nunggu travel jemputan. Mobil avanza warna putih yang akan membawa kita ke kaki gunung bromo. Bismillah.


Perjalanan pun dimulai, perkiraan saya perjalanan kami tak menempuh waktu lama, karena Bromo identik dengan Malang, bayangan saya hanya akan menempuh waktu sejam saja. Ternyata saya salah. Bromo terletak di Pasuruan dan ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam dengan kondisi kecepatan mobil yang tinggi dan medan yang berat. Tengah malam buta tanpa penerangan lampu jalan, hanya dari lampu mobil, menanjak 45 derajat, belokan tajam ke kiri, belokan tajam ke kanan. Saya perkirakan jalanannya hanya cukup dilalui satu mobil ditambah sebelah kiri jalan langsung jurang tanpa pengamanan pembatas jalan. Kondisi ini makin membuat saya ciut nyalinya, mencekam, dan cukup dibuat terkocok-kocok perut saya. Dan saya ga kuatttt….hoekkk…hoekkk…
Tiba di kaki gunung, turun dari mobil desiran angin terasa dingin. Pertama yang saya cari adalah toilet. Dan ternyata amat mudah menemukan toilet disini. Ditambah lagi banyaknya warung-warung kecil sampai tengah malam. Pokoknya jangan takut tidak bisa pipis, BAB atau minum kopi, teh manis, indom*e rebus dan harganya sesuai kantong, tidak mahal dan tidak dijebak. Malam-malam di tempat antah berantah awalnya membuat ketar ketir, tapi ternyata penduduk suku tengger amat ramah-ramah dan baik-baik. Mereka sangat kuat memegang adat istiadat, termasuk kebiasaan leluhur untuk berlaku jujur dan tidak berlaku jahat. Denger punya denger dari supir yang sering antar wisatawan ke daerah sini, mobil dibiarkan tak terkunci pun mereka tak khawatir akan hilang dan barang-barang dalam mobil pun aman.
Tiba di kaki gunung sekitar pukul 2 malam, disini kita tidak bisa melanjutkan dengan mobil biasa, harus berganti dengan mobil jeep, dikarenakan medan yang semakin berat dan ketinggian yang hanya bisa dilalui dengan jeep dan supir-supir professional. Karena dari awal saya tidak ikut ambil paketan mobil travel dan jeep. Saya pun mencari jeep-jeep yang disewakan, tentunya dibantu oleh supir yang pertama kali antar kita ke kaki gunung. Bertemulah saya dengan pak adinata. Pak adinata menawarkan biaya jeep dan dijelaskan berapa spot yang akan dikunjungi, dan menjelaskan biaya sewa jeep bila musim liburan ini mencapai 750 ribu rupiah. Harga normal berkisar 600 ribu rupiah.
Pukul setengah tiga malam, perjalanan menuju puncak dimulai, melihat saya membawa bayi, sang supir menyarankan kami untuk berangkat cepat, agar dapat parkiran di atas, ini akan memudahkan kami agar tidak terlalu jauh jalan menanjak yang akan dilalui dengan berjalan kaki. Sang supir menyarankan saya dan Aisha untuk duduk di depan, biar tidak pusing melalui jalanan yang curam sekali. Pertama kali naik jeep dengan roda yang besar membuat sensasi tersendiri. Saya hitung melihat ke belakang muat untuk 6 orang dewasa, dan depan disamping supir bisa dua orang. Jadi bila ke bromo 8 orang cukup menyewa satu jeep. Perjalanan menuju atas ini lebih curam daripada ketika naik mobil pertama tadi. Lebih berat medannya, dan tentunya tak ada penerangan sedikitpun kecuali dari lampu jeep. Sang supir yang merupakan suku asli tengger sangat fasih berbahasa Indonesia, sopan dan penampilannya seperti penampilan penduduk suku tengger lainnya, celana panjang, kaos dan sarungan yang di slempangin di leher. Tak seperti perjalanan pertama yang seperti dikocok-kocok perutnya, perjalanan ke dua ini lebih santai dan mengasikkan walaupun suasana gelap dan dinginnya hutan pinus menyelimuti perjalanan.
Sesampainya di atas, kami dapat parkiran di atas, tak terlalu atas sih, tapi tidak di bawah juga, lumayan dilanjut dengan berjalan kaki. Ditambah anak-anak tangga yang harus dilalui, dalam gelap, dingin dan menggendong Aisha. Zharfan dan Syabil dalam gandengan abinya. Ketika Desember saya kesana sedang musim hujan, perjalananpun diiringi gerimis-gerimis kecil, tapi ternyata musim hujan malah dinginnya tidak seberapa dibandingkan musim kemarau. Pada musim kemarau, dingin bisa dua kali lipat dibandingkan musim hujan. Duh ga kebayang dinginnya, segini saja sudah sangat dingin. Selangkah demi selangkah, dingiiin dan lapisan oksigen terasa tipis, syabil sudah mau nangis ga kuat. “Ayo de, ade bisa, tuh dikit lagi kita mau sampe di puncak”. Sambil ngos-ngosan dan nyemangati ade, aisha pun terlihat kedinginan, saya betulkan jaket saya menyelimuti aisha sambil memeluknya erat. Melihat jam dalam gelap sangat sulit, saya memperkirakan saat itu jam 4 subuh. Terlihat beberapa pengunjung yang lain menunaikan ibadah sholat subuh di pendopo, kami pun bergegas sholat subuh. Awalnya pertanyaan dalam hati saya, dimana nanti kita sholat subuh, dan akhirnya terjawab. Disini di puncaknya terdapat sebuah pendopo dan tempat berwudhu yang memang dipersiapkan untuk sholat subuh.
Selesai sholat, kita mencari posisi yang enak untuk melihat kemunculan sang surya. Dan sesekali melihat ke atas langit, pada saat itu bintang terasa dekat sekali dengan kepala, indah, indah sekali bintang-bintang bertebaran di atas langit. Jaket saya ditarik-tarik Syabil, sambil melontarkan pertanyaan polos. “ummi, kita mau ngapain disini?”. “Kita mau liat matahari terbit de, itu dari sana, bentar lagi”. Dan dari timur terlihat sedikit demi sedikit lapisan langit berwarna kejinggaan, tanda sang mentari mau muncul. Saya lihat sekeliling kami pada menggunakan kamera canggih untuk mengabadikan momen indah ini, hanya kami yang cekrek cekrek menggunakan kamera hape dan tablet. :p. saya bersyukur subuh ini cuaca cerah, tidak mendung, kemunculan matahari dapat kita lihat langsung. Ditambah pemandangan gunung-gunung dan lapisan kabut yang menyelimuti, seperti berada di negeri atas awan. Masha Allah. Indaaahh sekali.

Detik demi detik langit semakin terang, pagi telah datang, udara masih sangat dingin. Tapi keindahannya belum mau kami tinggalkan. Tapi masih banyak spot yang akan kita kunjungi. Turunlah kami menyusuri anak tangga. Sesampainya di jeep, terlihat dipinggir-pinggir jalan warung-warung telah buka, ada yang jual baju, kupluk, teh hangat, kopi dan indom*e. Kalau saya tentunya mencari toilet. Abinya beli kaos hitam semeru dan kupluk pink untuk aisha. Zharfan dan Syabil sarapan popm*e dan teh hangat. Makanan yang terasa spesial bagi mereka, karena jarang-jarang ummi mengijinkan makan popm*e bila di rumah. Untuk urusan satu ini ummi ketat nak.


Perjalanan berlanjut, sekarang kita turun gunung, menuju spot-spot yang tadi kita lihat dari atas. Perjalanan pertama ke padang savana. Ini adalah padang pasir yang ditumbuhi semak-semak berbunga dan rumput-rumput indah. Hal pertama yang dilakukan Syabil adalah bermain pasir. Serius sekali dia bila sudah bertemu pasir. Tak bisa diganggu, seperti menemukan mainannya. Zharfan ikut-ikutan adenya main pasir, sesekali dia ngerecoki adenya. Kabut masih menutupi pandangan, jarak pandang sangat terbatas, tapi udara sudah tak terlalu dingin seperti pada malam hari.


Spot kedua adalah pasir berbisik atau sebagian orang menyebutnya bukit teletubis. Bukit-bukit pasir menyerupai di film anak-anak teletubis, hanya ini adalah bukit pasir. Sampainya kita disini kabut masih rendah. Anak-anak kembali main pasir sambil sesekali berlari-lari dan mendaki bukit pasir ini hingga tinggi. Ini adalah spot yang digunakan di film pasir berbisik. Karena saya kesana musim penghujan, maka pasir-pasirnya pun memadat, sehingga tak membentuk gelombang-gelombang seperti yang sering kita lihat di foto-foto.

Spot yang terakhir adalah kawah bromo dan gunung batok. Legendanya pada jaman dahulu kala gunung batok merupakan tutup dari kawah disebelahnya. Disini jeep-jeep berkumpul dan para pengunjung berjalan ke atas kawah. Berhubung saya membawa bayi, saya tidak sampai ke kawahnya, sang supir memberitahu bahwa bau belerangnya sangat menyengat jadi kita cukup dibawah saja, sambil menikmati bakso malang. Si pedangang bakso malang menggunakan motor menjajakan bakso malangnya. Tidak mahal untuk ukuran tempat wisata. Cuma 10 ribu rupiah permangkok. Pertanyaannya adalah ini abang bakso bawa motornya jago banget ya, bisa jualan sampe sini dengan bawaan berat di belakang. Disini juga terdapat kuda-kuda yang disewakan ke para pengunjung. Sewa kuda sebesar 100 ribu rupiah.
Selesai menikmati tempat-tempat ini, kami pun kembali ke kaki gunung. Saat itu kira-kira pukul 9 pagi. Anak-anak sudah terlihat lelah dan mengantuk. Tiba di kaki gunung, kami berganti mobil, dan sambung dengan mobil yang tadi malam menunggu disini. Perjalanan pulang sambil membawa kenangan indah tentang bromo. Keindahan negeri di atas awan.


Sabtu, 14 Februari 2015

Rejekinya Penjual Ketoprak



                Sudah berkeliling mencoba berbagai ketoprak, selalu jatuh hati dengan ketoprak malam ini. Selain porsinya banyak, bumbunya pas di lidah dan kerupuknya yang ga pelit-pelit alias banyak. Mangkal mulai jam 8 malam dan langsung antri membelinya, si abang ga khawatir rejekinya hilang padahal iya buka sehabis menunaikan sholat isya berjamaah dulu di masjid. Bila sedang meracik bisa sekaligus 6 piring di waktu yang bersamaan, sambil ngulek sambil satu dua pelanggan datang membisikkan pesanan mereka dan anehnya masing-masing pesanan ini tidak pernah salah. Bayangkan ada yang pesan pedas, sedang, tidak pedas, ga pake tauge, tahunya dua, tidak pake ketupat, pake telor goreng dan lain-lain kemauan pelanggan, dan sekali lagi, hebatnya ga pernah salah loh masing-masing pesanan ini, padahal dia tak banyak menanyakan ulang pesanan. Sepanjang saya perhatikan, dari jam 8 malam pesanan tak berhenti-henti, ramai selalu. Tak pernah saya lewat dan liat dia nunggu pembeli, tapi pembeli yang nunggu abangnya datang. Dan banyak orang-orang sini yang sering bilang si abang rajin sholat subuh di masjid, dan terkadang mengimami sholat subuh berjamaah, korelasi dengan rejeki diantarkah?...